Sebuah Komunikasi Sosial Atau Propaganda

Oleh: Mayor Pnb Teddy Hambrata

Rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi khalayak demi mendapatkan suatu tujuan tertentu seperti yang diinginkan pelaksananya biasa kita sebut dengan propaganda. Tidak sedikit propaganda digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang benar tanpa merugikan suatu pihak tertentu, namun tidak jarang pula diantara propaganda yang sering kita lihat sengaja dibuat untuk menjatuhkan oposisi maupun pihak yang tidak sepaham dengan kita. Umumnya propaganda yang bertanggung jawab kerap kali menyampaikan suatu pesan yang telah dibuat sedemikian rupa maupun diolah berdasarkan bukti-bukti pendukung yang lengkap sesuai dengan urutan kisah ataupun peristiwa yang terjadi, akan tetapi beberapa propagandis terkadang melakukan aksinya hanya berdasarkan satu bukti yang tidak lengkap dan cenderung mengulang-ulang pada tampilan yang sesuai dengan keinginan dirinya untuk men-drive masyarakat menuju kearah tujuannya tersebut. Propaganda sebagai salah satu bagian dari komunikasi sosial masyarakat merupakan sebuah unsur kekuatan dari kekuasaan masa depan adalah termasuk dalam ‘the third face of power” dimana kita ketahui menurut Lukes bahwa kekuasaan terbagi dalam tiga dimensi dan dimensia ketiga adalah dimana suatu kekuasaan yang dapat mempengaruhi masyarakatnya tanpa melalui sebuah paksaan melainkan sebuah ajakkan.

Namun, apa yang terjadi jika di dalam suatu Negara berdaulat “the third face of Power” tersebut datangnya dari pihak yang tidak jelas (blur)  bukan dari pihak dalam yang sedang berkuasa. Sebuah konflik internal tanpa ada penyeimbang yang pasti menyebabkan suatu Negara bagaikan berjalan pada seutas tali tanpa keseimbangan dan siap untuk jatuh ke sungai yang dalam dengan arus yang deras.

Untuk beberapa kasus di dalam negeri dengan nama NKRI, jaman orde baru (mengesampingkan masalah diktatorisme) adalah suatu jaman dimana stabilitas Negara dalam kondisi paling stabil, ketika semua informasi keluar dan masuk melalui satu pintu dihubungkan dengan diversity Indonesia yang begitu beragam. Kemudian bagaimana yang kita rasakan sejak jatuhnya orde baru hingga sekarang, bahwa kita tahu dan melihat sebuah proses yang tidak kita sadari untuk melemahkan NKRI melalui the third face of power atau soft power datang bertubi-tubi namun tidak jelas siapa sponsor utama dalam pelaksana rencana penghancuran bangsa tersebut. Undang-Undang Intelijen yang terjadi banyak  perubahan dan rancangan Undang-Undang Keamanan Negara yang sangat sulit untuk disahkan  sedikit banyak telah membuat sulit para pelaksana penjaga stabilitas Negara total dalam bekerja. Traumatic terkungkungnya komunikasi sosial jaman orde baru sering dijadikan alasan untuk terus melemahkan stabilitas negara padahal dalam berbagai lini reformasi menuju kearah yang baik dan untuk dicintai rakyat sebagai pelaksana penjaga stabilitas Negara tersebut tidak sedikit telah dilakukan.

Kembali kepada propaganda, dimana pembentukkannya sering kali dilakukan langsung kepada target yang diinginkan. Sebuah teori dalam buku “Propaganda Dalam Komunikasi Internasional” menyebutkan bahwa “melihat dari tindakan komunikasi senantiasa memiliki suatu tujuan terlebih komunikasi sosial yang disampaikan melalui media seperti surat kabar, majalah, radio, televisi dan yang paling cepat dalam prosesnya adalah melalui media internet dan jejaring sosial seperti Facebook, Youtube, Twitter maupun Google Share dapat dikatakan sebagai suatu upaya propaganda dalam komunikasi sosial (M. Shoelhi, 107:2012). Menurut buku yang sama juga menyatakan bahwa komunikasi dalam suatu propaganda dibentuk sengaja untuk membentuk suatu opini dan “kenyataan lain” atau “kenyataan kedua” dari kenyataan pertama atau kenyataan aslinya (M. Shoelhi, 107:2012).

Sebuah pemikiran yang logis menyatakan bahwa ketika komunikasi persuasif adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mengajak berbagai pihak untuk mengikuti keinginan komunikator dengan perbandingan bahwa komunikator memiliki pemahaman yang lebih daripada target komunikasi tersebut.

Kasus terakhir yang terjadi di Indonesia pada bulan Oktober 2012 baru saja adalah beruntunnya propaganda negative menghujani pemerintah maupun alat Negara. Diawali oleh terjadinya kasus perseteruan antara dua Instansi; kemudian tragedi terbunuhnya aparat di Poso sampai dengan jatuhnya pesawat Hawk 209 di Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin di Pekanbaru Riau yang pemberitaan lebih berat kepada kasus kekerasan terhadap jurnalis ketimbang fokus terhadap kenapa alutsista yang mahal tersebut bisa kecelakaan. Tidak berlebihan menganggap kasus terakhir tersebut sebagai propaganda dari orang-orang yang blur karena sepeti kita lihat pada video di situs Youtube bahwa proses mengapa kekerasan tersebut terjadi tidak ditampilkan secara gambling dan fokus hanya pada saat-saat kekerasan terjadi. Ada asap maka akan ada api, karena jika penonton punya keinginan untuk jeli melihat bahwa cara-cara persuasive telah lebih dulu dilakukan daripada cara repressive, namun apa yang ada didalam pikiran kita ketika saudara atau orang tua kita tewas mengenaskan ditempat umum kemudian datang orang tidak dikenal tanpa ijin kita mengambil gambar, apalagi orang tersebut sama sekali tidak sopan dengan hanya menggunakan celana pendek (hanya sebuah contoh kecil).

Kembali lagi pada Propaganda, adalah seorang bernama George Stomstock, mengatakan bahwa fungsi media massa dalam kehidupan sosial, antara lain: memberikan informasi yang mendidik dan berguna untuk masyarakat; memberikan kesenangan kepada masyarakat; pewaris dan penyebar nilai-nilai sosial dan budaya antar generasi; dan pengawasan dan membantu masyarakat dalam kehidupan sosialnya (M. Shoelhi, 117:2012). Baiklah, ketika kita hidup di dalam bumi Indonesia yang haus akan nilai-nilai demokrasi, namun apakah dengan menampilkan gambar/video kekerasan di masyarakat adalah sesuai dengan fungsi media untuk mendidik dan berguna dalam masyarakat; apakah masyarakat senang dengan tampilan kekerasan tersebut; dan apakah bisa dikatakan sebagai fungsi penyebar nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Hidup dalam alam demokrasi sebenarnya sangat membuat hati semua kalangan senang dan dapat mengekspresikan diri, namun Indonesia dengan jutaan keragamanannya sesungguhnya memiliki demokrasi Pancasila yang merupakan adopsi antara demokrasi dengan nilai-nilai Pancasila. Demokrasi  Pancasila adalah ketika semua manusia Indonesia bebas untuk menyampaikan pendapat namun tetap dalam nilai bertanggung jawab dengan apa yang disampaikannya, apakah sudah berguna dalam lingkungan mencakup Negara.

Sebagai penutup, sedikit gambaran Negara Brunei Darussalam, sebuah negeri yang jumlah kemajemukkannya rendah namun ketika informasi bergulir tetap keluar dan masuk melalui satu pintu. Bahkan sampai kegiatan agama seperti Sholat Jumat pun selalu disampaikan khotbah atau pesan yang sama di setiap masjid di seluruh penjuru Negara. Itu adalah sebuah Negara dengan tingkat perbedaan tidak sampai 5%. Bagaimana dengan Indonesia yang disetiap sudut terdapat perbedaan. Demokrasi Pancasila?atau demokrasi Liberal?

Coretan Kecil Akibat Galau Dengan Propaganda Dari Pihak BLUR

Ref:

1. Mohammad Shoelhi (2012). Propaganda Dalam Komunikasi Internasional. Jakarta: Simbiosa Rekatama Media. 107-117.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s