Si Kecil Belum Tentu Lemah, Si Besar Belum Tentu Kuat

Terinspirasi membuat sebuah tulisan singkat ini setelah melihat seorang kerabat membuka google earth yang tertuju pada sebuah Negara Kota yang besarnya bagaikan sebuah titik dibandingkan dengan satu per lima wilayah Indonesia (lihat gambar di atas paragraf ini). Sebuah Negara tempat berkumpulnya orang-orang “atas angin” (sebutan untuk bangsa tionghoa yang merantau di bumi Nusantara- sabdo palon). Bukan membahas tentang SARA yang ditekankan didalam artikel ini, namun lebih kepada kisah “David and Goliath” yang membuktikan bahwa yang kecil belum tentu lemah dan sebaliknya yang besar belum tentu menang. Serta bukan pula membanggakan kejayaan bangsa lain akan tetapi justru lebih condong kepada membangkitkan kesadaran dan Nasionalisme Bangsa Indonesia untuk lebih memahami pentingnya kekuatan militer di sebuah Negara yang berdaulat seperti Indonesia tanpa adanya unsur kepentingan pribadi maupun golongan.

Kemudian, liht gambar atas, saya akan mencoba untuk men-zoominggambar tersebut menjadi lebih fokus pada titik yang dimaksud. Saya sedikit membuat teka-teki bukan untuk membuat penasaran, tetapi untuk mengarahkan para pembaca terhadap apa yang maksud dari tulisan di paragraph pertama. Apakah terlihat dua buah pulau bernama Pulau Sudong dan sebuah lagi bernama Pulau Pawai? Dan apa yang terdapat di dalam Pulau tersebut? Baiklah, saya akan bantu pembaca untuk mengetahui apa yang terdapat di atas dua pulau tersebut, maka saya akanzoom lebih besar lagi gambar Pulau Sudong dan Pulau Pawai.

Terlihat jelas bahwa Pulau Sudong adalah sebuah Pangkalan Udara militer dimana Pulau Pawai terdapat Area Weapon Range milik si Negara Kota. Kemudian, apa hubungannya dengan pertahanan Negara Indonesia Raya tercinta? Seperti kita ketahui bahwa paranoid Negara Kota tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak zaman keruntuhan Majapahit, dimana disaat zaman Raja Brawijaya V orang-orang “atas angin” mendapat perlindungan yang luar biasa dari Sang Penguasa saat itu, dan setelah runtuhnya majapahit kondisi menjadi lebih tidak positif untuk mereka beserta keturunannya maka banyak diantara mereka yang berkumpul dalam satu pulau kecil tersebut baik yang berasal dari Indonesia maupun semenanjung Malaysia.

Paranoid yang sudah sangat mengakar tersebut mengakibatkan semangat menggebu-gebu untuk menjadi lebih kuat dari pada tetangga sekitarnya dengan prinsip detterent power is everything for them”. Salah satu imbasnya terhadap Indonesia saat ini adalah menyangkut kepada penguasaan wilayah kendali udara Nasional di Kepulauan Riau. Sejak tahun 1999 disaat pasca krisis ekonomi melanda Indonesia telah menyebabkan tergadainya ruang udara Nasional di daerah Kepulauan Riau sampai dengan Pulau Natuna, yang disebabkan kurangnya peralatan yang memadai bagi Air Traffic Control (ATC) di wilayah tersebut. Namun, setelah saat ini Indonesia dinilai bisa memenuhi standar ATC justru muncul Undang-Undang Penerbangan Internasional No. 1 tahun 2009 yang menyebutkan bahwa “secara otomatis ruang wilayah udara di Kepulauan Riau dan sekitarnya akan dikembalikan ke Indonesia setelah 15 tahun berlakunya Undang-Undang tersebut. Artinya adalah pada tahun 2024 Flight Information Region Kepulauan Riau baru kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi.

Dengan adanya AWR serta pangkalan udara militer di Pulau Sudong dan Pulau Pawai, maka tentunya sebentar lagi akan ada restricted/prohibited area di ruang udara Kepulauan Riau yang aslinya milik bangsa dan tanah air Indonesia. Paranoid Negara Kota yang sedemikian besar cukup membuat kita kehilangan kewaspadaan dan justru dengan terbit UU No. 1 2009 tersebut Negara Kota telah mempersiapkan dari jauh-jauh hari agar pada waktunya di tahun 2024 memiliki alibi baru dan kuat untuk tidak mengembalikan wilayah Kontrol Udara Nasional Indonesia Raya.

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk tujuan SARA, namun lebih kepada menyadarkan seluruh komponen bangsa Indonesia apapun warna kulitnya; bagaimana pun bentuk matanya; apapun warna partainya; dan apapun agamanya, untuk terus waspada dengan “semut kecil yang selalu bisa membunuh gajah besar melalui lubang telinganya”

Sebagai penutup, gambar dibawah ini lebih membuktikan  bahwa “si kecil belum tentu lemah, si besar belum tentu kuat”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s