Bagaimana Memaknai Kemerdekaan

Memaknai arti kemerdekaan dalam sebuah tulisan, untuk memberikan sedikit gambaran yang hakiki mengapa sesungguhnya kita berhak merasa merdeka di Negeri seribu satu mimpi ini. Adapun negeri seribu satu mimpi adalah istilah yang saya gunakan karena melihat betapa banyaknya manusia di negeri ini yang selalu bermimpi akan kebahagiaan, namun hanya bisa memimpikan itu semua karena kemalasan serta pola fikir negatif yang menggerogoti isi kepala.

Dimulai dari lapisan bawah hingga tengah, ketika seorang atau bahkan sekelompok manusia yang kerjanya hanya bisa menyalahkan orang lain bahkan selalu menyalahkan kegagalannya sebagai kegagalan pemimpinnya, sungguh naïf, karena kegagalan manusia adalah tanggung jawab setiap masing-masing individu yang tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Konkritnya adalah demontstrasi besar-besaran yang juga ugal-ugalan, dengan membakar ban, merusak pagar, membakar aset pribadi orang lain maupun membakar sarana umum seperti bis kota. Apakah pantas disebut bangsa yang merdeka, padahal hanya sebagian kecil saja manusia yang tidak terbelenggu dalam idealisme utopis macam itu.

Dilanjut kepada lapisan tengah ke atas, yang sebetulnya tidak jauh berbeda brutalnya hanya saja perlakuannya sedikit lebih elegan dengan duduk berdasi, memenangkan kampanye, mengumbar janji kepada lapisan bawah-tengah, ujungnya tetap tidak membuat perubahan sedikit pun melainkan perubahan kearah yang semakin semrawut dengan budaya saling berebut. Kembali kepada makna 68 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, jika saja arwah para pendiri bangsa ini diijinkan untuk melakukan pelesir sejenak oleh Sang Khalik melihat-lihat dunia dalam 10 menit saja, kemudian melihat pekarangan indah yang dulu mereka buat cukup bagus dan tinggal dipupuki saja ternyata yang tampak adalah hiruk pikuk duniawi yang saling tuduh tersebut, maka saya yakin mereka akan menangis sembari berdoa kepada Sang Khalik agar pekarangan tersebut menjadi luluh lantak saja.

Memaknai kemerdekaan, memang benar, bahwa merdeka itu adalah kebebasan, akan tetapi kebebasan seperti apa yang diharapakan? Demi mencapai kemakmuran seluruh rakyat sungguh, sehingga kebebasan itu harus terarah, harus pula dalam koridor hukum dan penegakan hukum yang solid demi terciptanya regulasi yang juga tegas, bukan kebebasan sebebas-beasnya bahkan hidup semaunya, ketika gagal menyalahkan orang lain, sebaliknya saat berhasil menginjak saudaranya sendiri. Merdeka itu bukan menjadi “macan asia”, namun merdeka adalah setiap rakyat bisa sejahtera, hidup layak sebagai manusia, mendapat perlakuan hukum seperti manusia, untuk menjadi manusia Asia, manusia dunia yang berbudi pekerti luhur serta berakhlak mulia, bukan saling bunuh, saling tuding, saling tuduh, serabutan untuk kejar-kejaran saling berebutan. Merdeka itu bukan wujud, karena wujud dapat menipu bahkan cenderung berada dalam kemunafikan. Merdeka itu letaknya ada dalam hati nurani yang terintegerasi dengan otak kanan, kiri dan batang otak sehingga setiap berfikir tentang bangsa yang merdeka selalu meningat hati nurani jauh dari kesesatan duniawi.

Sedikit melihat fakta, walaupun pahit akan tetapi inilah kenyataan yang harus diterima agar bangsa Indonesia dapat memaknai kemerdekaan bukan merdeka utopis. Secara de facto dan de yure, patut berbagga karena sudah 68 tahun kita merdeka, akan tetapi apakah benar kita merdeka jika masih banyak bahkan semakin marak kejahatan, korupsi dan pembunuhan bagaikan nyawa tiada arti diantara sesame saudara sebangsa setanah air. Hukum sebagai Panglima, namun tetap saja hukum masih terlecehkan ketika koruptor di dalam penjara masih bisa menikmati sel ruangan ber-AC, internetan, televisi LCD atau mungkin sampai mirisnya hukum di negeri ini sehingga seorang napi koruptor daging sapi meminta ruangan khusus kunjungan istrinya untuk bercinta. Kenyataan pun berbicara, sampai kitab suci pun juga menjadi sasaran korupsi.

Mengagungkan status sosial layaknya dewa sehingga kedudukan bisa menjadi lebih kuat daripada hukum untuk memperdaya yang lemah. Semua adalah fakta yang tentunya semua orang melihat dan merasakan. Tetapi, yakinlah bahwa diantara ratusan juta manusia di negeri ini masih lebih banyak yang waras, sehingga yakinlah dalam momentum hari kemerdekaan Indonesia yang 68 tahun ini semua mau untuk menyatukan tekad dalam rangka melawan segala kezaliman. Tentunya dengan wujud nyata dari dalam diri masing-masing, bekerja yang baik, sekolah yang pintar, taat beragama, kerja keras, ikhlas, sabar dan amanah. Karena bukan sabar dan ikhlas namanya jika masih berbatas, dan bukan tawakal jika masih malas.

Yakin, ketika gambar berbicara, bahwa tidak semuanya jelek di negeri ini, dan lihatlah pula dalam hal ini kita sedang merdeka dan kita rayakan kemerdekaan.

Dan dia tetap berkibar dimana pun dia berada…

Dan mereka masih tetap tersenyum bahagia, karena harapan-harapan mereka selalu menanti di depan mata untuk sebuah perubahan yang hakiki, sebagai generasi perubahan.

Dengan semangat, berlari menatap dan menuju masa depan mereka yang lebih baik sembari menyelesaikan cita dan asa leluhurnya.

1016993_367042753399183_290188450_n

1175099_367150050055120_1572082540_n

Merdeka Bangsaku, karena Aku Benar Cinta Indonesia!!!

Sumber Foto:

1. C. Ani Yudhoyono. 2013.

2. Grup Jiwa Merah Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s